Selasa, 22 Maret 2011

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SILASE

Silase yang baik adalah silase yang dapat disimpan lebih lama, selama ensilase tidak banyak terjadi kehilangan zat makanan serta disukai ternak.
Banyak faktor yang dapat berpengaruh pada hasil silase, seperti :
  1. Bahan Baku atau hijauan. Dari bahan baku ini yang perlu diperhatikan adalah kandungan : air, WSC dan buffer capacity.
  2. Teknologi. Teknologi tersebut meliputi : penanganan hijauan, bahan additive yang mungkin perlu ditambahkan dan silo
Hijauan pakan ternak umumnya setelah dipotong mempunyai kandungan air 78 sampai 82 persen atau kandungan BK 18 sampai 22 persen, sedangkan
untuk pembuatan silase, kandungan air dalam hijauan antara 65 sampai 70 persen, atau kandungan bahan kering (BK) sekitar 30 sampai 35 persen. Dengan demikian bila hijauan pakan ingin dibuat silase maka perlu dilakukan pelayuan terlebih dahulu. Sering timbul pertanyaan, bagaimana cara melayukan dan berapa lama waktu yang diperlukan untuk pelayuan tersebut?
Pelayuan umumnya sangat tergantung pada jenis hijauan, umur pemotongan dan kesuburan tanah dimana hijauan itu tumbuh. Semakin muda umur hijauan dan semakin subur lahan umumnya kandungan air dalam hijauan tinggi. Untuk melayukan hijauan sebaikya dilakukan sebagai berikut :
  • Setelah hijauan dipotong/dipanen, kemudian diikat pada besaran berat tertentu.
  • Tempatkan ikatan hijauan pada naungan dengan posisi berdiri, hal ini untuk menghindari air hujan atau embun pagi yang dapat mempercepat hijauan busuk dan posisi berdiri diharapkan air hasil respirasi hijauan dapat langsung menguap. Apabila hijauan ditumpuk, maka tumpukan bagian bawah akan menguning dan busuk karena air hasil respirasi tertahan di dalam tumpukan hijauan.
  • Biarkan hijauan selama 2 sampai 4 hari (tergantung jenis hijauan dan kelembaban tempat naungan). Hijauan siap dicopper apabila warna hijauan sudah hijau pucat. Untuk hijauan yang sudah kuning tetapi masih basah berarti terjadi kesalahan dalam pelayuan. Pada tanaman jagung yang ingin dibuat silase, biarkan hijauan tua di lahan dan siap di chopper tanpa pelayuan apabila dua helai daun bagian bawah sudah menguning.
Tanaman pakan ternak umumnya mempunyai kandungan zat makanan (nutrient) yang bervariasi, hal ini sangat dipengaruhi oleh jenis tanaman, umur pemotongan dan menejemen pengelolaan. Tanaman pakan ternak dari kelompok gramine (rumput-rumputan) merupakan tanaman yang ideal digunakan untuk silase. Hal ini disebabkan kandungan protein rumput rata-rata dibawah 10 persen dan kandungan karbohidrat cukup tinggi, Namun demikian karbohidrat di dalam rumput bervariasi jenisnya, sedangkan untuk dibuat silase diperlukan karbohidrat yang mudah larut dengan air (WSC). Umumnya WSC dalam rumput dikatagorikan sebagai glukosa, fruktosa, sukrosa dan fruktosan. Oleh karena itu hanya rumput yang mengandung WSC tinggi yang baik untuk silase, seperti tanaman jagung. Selanjutnya akan timbul pertanyaan : Bagaimana bila rumput yang akan dibuat silase merupakan rumput yang kandungan WSC rendah seperti rumput Gajah. Sebagai jawabannya : Bisa, tetapi perlu ada tambahan WSC seperti molasses (tetes) atau jagung agar WSC dalam silo cukup untuk pertumbuhan bakteri asam laktat.
Untuk tanaman yang mempunyai kandungan protein dan mineral tinggi, seperti tanaman leguminosa sebaiknya untuk pengawetan jangan menggunakan teknik silase karena protein akan didegradasi oleh mikroorganisme menjadi ammonia yang merupakan komponen basa. Selanjutnya mineral juga mempunyai potensi membentuk basa. Komponen basa tersebut bila banyak terdapat dalam silo akan menyebabkan pH sulit turun dan pada akhirnya silase tidak dapat disimpan lebih lama. Komponen yang potensial menjadi basa seperti protein dan mineral tersebut dikatagorikan sebagai buffer capacity yang sebaiknya dihindari dalam pembuatan silase.

Penanganan hijauan yang meliputi cara panen, pelayuan, perubahan ukuran partikel dan kecepatan memasukkan dalam silo juga memegang peranan penting dalam menentukan kualitas silase yang dihasilkan, Kehilangan hijauan diawali dari cara panen, seperti tercecer di lahan. Selanjutnya pada proses pelayuan juga dijumpai adanya kehilangan hijauan, baik dalam bentuk ceceran maupun akibat pelayuan yang salah, seperti busuk, warna kuning serta proses respirasi sel tanaman yang berkepanjangan.
Setelah hijauan layu, maka perlakuan berikutnya adalah merubah ukuran partikel menjadi kecil=kecil. Perubahan partikel ini berfungsi untuk :
  • Memudahkan memasukkan hijauan dan menempati semua bagian celah-celah dalam silo agar mudah dibuat kondisi an-aerob.
  • Memudahkan mencampur dengan bahan lain (additive) bila diperlukan.
Upaya untuk memperkecil partikel hijauan dapat digunakan beberapa alat, seperti chopper atau dapat juga shredder,
  • Chopper adalah alat pemotong hijauan dengan menggunakan pisau sehingga menghasilkan rajangan hijauan. Hasil pemotongan dengan chopper masih dapat diidentifikasi dengan mudah bagian-bagian tanaman (batang dan daun). Ukuran partikel (panjang pemotongan) dapat diatur, biasanya berkisar antara 2 sampai 5 cm.
  • Shredder adalah alat mencabik hijauan dengan menghantamkan hijauan dengan kecepatan tinggi pada pisau statis, sehingga menghasilkan serat=serat hijauan. Hasil dari shredder ini sulit diidentifikasi bagian-bagian tanaman, karena bentuk cabikan sudah uniform (seragam).
Ukuran partikel pada pembuatan silase ini cukup penting diperhatikan, mengingat hasil silase adalah asam, sedangkan pH rumen ternak ruminansia netral. Semakin lembut ukuran partikel silase bukan suatu hal yang bijaksana karena nantinya produksi saliva ternak akan berkurang yang dapat berakibat pH rumen cenderung asam. Oleh karena itu ukuran partikel disarankan 4 sampai 5 cm agar ternak dapat mengunyah silase dengan baik dan ternak juga tetap bisa melakukan ruminasi sehingga saliva tetap banyak diproduksi untuk mempertahankan pH dalam rumen.
Hasil pemotongan hijauan sebaiknya langsung dimasukkan dalam silo dan segera ditutup. Kecepatan pengisian silo memagang peranan penting dalam kualitas silase, hal ini untuk menghindari proses respirasi sel tanaman yang berkepanjangan. Umumnya untuk mempercepat proses pengisian silo serta menghindari ceceran hasil pemotongan dilakukan dengan mengarahkan hasil pemotongan chopper atau shredder langsung ke silo.

Additive
Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa kandungan WSC sangat diperlukan dalam pembuatan silase, namun kenyataannya tidak semua tanaman mempunyai kandungan WSC yang cukup. Sebagai suatu solusi agar hijauan tersebut tetap dapat diawetkan dalam bentuk silase, maka diperlukan tambahan bahan yang kaya akan WSC. Pada dasarnya pembuatan silase mempunyai dampak penurunan atau kerusakan zat makanan, sehingga untuk menutupi kekurangan zat makanan tersebut dapat dilakukan dengan menambah zat makanan lain. Zat makanan dalam bentuk bahan pakan yang ditambahkan dalam silase disebut dengan additive. Ada beberapa additive yang bisa ditambahkan dalam pembuatan silase sesuai dengan tujuannya seperti pada gambar berikut.Terdapat 3 kelompok additive dalam pembuatan silase, yaitu :

1. Bahan pengganti fermentasi
Salah satu bahan pengganti fermentasi yang sering untuk mengawetkan pakan adalah asam formiat. Hijauan yang disiram dengan asam formiat langsung bersifat asam dan akhirnya dapat awet, namun penggunaan bahan ini di negara tropis basah seperti Indonesia kurang layak dikerjakan karena di daerah tropis basah kaya akan bakteri penghasil asam laktat serta penggunaan asam ini juga tidak murah.

2. Bahan untuk mempercepat proses fermentasi
Bahan ini sengaja ditambahkan untuk mempercepat proses fermentasi, agar asam laktat cepat terbentuk sehingga kerusakan nutrisi dapat dikurangi. Bahan-bahan yang termasuk untuk mempercepat proses fermentasi adalah :
  • Enzim, agar nutrient yang komplek menjadi sederhana untuk digunakan sebagai substrat oleh bakteri penghasil asam laktat (misal : enzim selulase)
  • Kultur bakteri, starter/inokulan bakteri asam laktat (Lactobacillus) dengan harapan populasi bakteri pada saat awal rnsilase jumlahnya banyak.
  • Antioksidan, diharapkan dapat menghambat aktifitas oksidasi dalam silo.

3. Bahan pakan untuk menutup zat makanan tertentu
Bahan ini ditambahkan pada pembuatan silase agar pertumbuhan bakteri asam laktat lebih optimal, selain itu juga menjadikan nutrient silase menjadi lebih baik karena bahan-bahan tersebut tidak semuanya dapat dimanfaatkan oleh bakteri. Adapun bahan-bahan yang dikatagorikan untuk menutup zat makanan tertentu tersebut adalah :
  • Molasses (tetes), merupakan bahan yang banyak mengandung WSC untuk pertumbuhan bakteri asam laktat.
  • Urea, merupakan sumber N untuk pertumbuhan bakteri asam laktat. Namun pemberian urea tidak dianjurkan dalam jumlah yang banyak karena bahan ini tergolong sebagai sumber buffer capacity.
  • Bahan pakan, seperti gaplek, bekatul, pollard yang umumnya adalah bahan sumber enersi.

Silo
Silo sebagai tempat pembuatan silase juga memegang peranan penting dalam pembuatan silase. Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan berkaitan sengan silo ini, yaitu :
  • Silo harus mampu mendukung kondisi an-aerob (kedap udara). Untuk membuat kondisi an-aerob umumnya hijauan dalam silo dipadatkan dengan cara diinjak-injak, dilindas dengan traktor atau menggunakan pompa vacuum (untuk kantong plastik). Selama ensilase sampai penyimpanan silo tidak boleh bocor.
  • Mudah untuk diisi hijauan, dimampatkan dan ditutup.
  • Mudah cara pengambilan hijauan dan mudah ditutup kembali agar sisa silase dalam silo yang masih belum digunakan tidak rusak.
  • Terbuat dari bahan yang tahan asam, seperti : tembok dan plastik.
  • Ditempatkan jauh dari pemukiman, mengingat silase berbau asam dan kadang di dasar silo terdapat leachate yang dapat mencemari sumber air bersih.
Tambah GambarBanyak macam silo yang dapat digunakan, hal ini tergantung pada pertimbangan biaya, lokasi/jarak kandang dengan sumber hijauan serta jumlah ternak yang dipelihara. Adapun macam silo adalah : Pit, Trench, Tower, Bag/Plastic dan Bale. Macam Silo tersebut dapat dilihat pada gambar di samping yang masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.



Evaluasi Silase
Ada beberapa indicator yang dapat digunakan untuk menentukan kualitas silase katagori baik atau jelek. Adapun indicator tersebut meliputi :

1. Analisis proksimat & pH
Analisis proksimat perlu dilakukan agar kandungan zat makan dalam silase dapat diketahui, hal ini sangat penting untuk penyusunan ransum ternak. Selanjutnya pH juga perlu diukur, dengan cara mencampurkan 1 bagian silase dengan 9 bagian air kemudian diukur dengan pH meter. Adapun criteria dari pH tersebut sebagai berikut
  • pH > 4,5 kurang baik, karena bila disimpan lama mempunyai resiko rusaknya nutrient
  • pH 4,3 – 4,5 cukup baik
  • pH 3,8 – 4,2 sangat ideal, dan tetap stabil selama silo tidak bocor.

2. Kehilangan nutrien (zat makanan)
Kehilangan nutrien dalam pembuatan silase rata-rata 13 – 17%. Penyebab kehilangan nutrien ini bervariasi seperti :
  • Kehilangan biomassa hijauan di lapangan mulai dari panen, chopping, pelayuan sampai pengisian dalam silo.
  • Respirasi dan panas akibat respirasi
  • Fermentasi. Kehilangan nutrien akibat fermentasi ini dipengaruhi oleh tingkat kepadatan (semakin padat isi silo semakin an-aerob) serta kandungan WSC (substrat yang tersedia untuk bakteri asam laktat). Pengukuran kehilangan nutrien ini tentunya dapat dilihat dari berat dan kandungan nutrisi sebelum bahan dibuat silase dan setelah dibuat silase. Melihat berat bahan sebelum dan sesudah silase masih belum cukup mengingat kemungkinan besar berat segar antara sebelum dan sesudah silase sama, tetapi setelah dianalisis kandungan nurien ternyata antara sebelum dan sesudah silase berbeda. Kehilangan nutrien yang dimaksud adalah selisih antara nutrient dalam bentuk berat sebelum dan setelah dibuat silase.
3. Warna & Bau
Warna silase yang baik adalah coklat terang (kekuningan) dengan bau asam. Warna silase yang coklat gelap kehitaman umumnya berlendir, sedangkan untuk bagian yang menempel pada dinding dan sekitar tutup silo umumnya terdapat jamur. Bagian silase yang berlendir tersebut diupayakan tidak diberikan pada ternak. Selanjutnya bau asam yang terbentuk adalah bau dari asam laktat. Apabila bau silase busuk (seperti bau sampah) atau bau ammonia menunjukkan bahwa asam laktat dalam silo berkurang dan bakteri di dalam silo didominasi oleh bakteri pembusuk serta banyak terjadi pembongkaran protein menjadi ammonia dan asam butirat.

4. N Amonia
Silase yang baik adalah silase yang mempunyai kandungan N Amonia sedikit. N Amonia dalam silase merupakan bentuk pembongkaran protein yang dapat meningkatkan pH silase. N silase boleh tinggi tetapi N Amonia tidak boleh tinggi, seperti indicator berikut ini.
  • Fermentasi sangat baik, >10
  • Fermentasi baik, 10 - 15
  • Fermentasi jelek, 15 - 20
  • Fermentasi sangat jelek > 20
5. Kandungan Asam Laktat
Hasil akhir aktifitas fermentasi bahan organic selama ensilase adalah asam organic, tetapi tidak semua asam organic dikehendaki dalam pembuatan silase, Asam organic yang diperlukan dalam pembuatan silase adalah asam laktat. Kandungan asam laktat diharapkan > 60% dari total asam dalam silase.. Rata-rata kandungan asam laktat dalam bahan kering silase sekitar 6,6. Kandungan Asam laktat ini mencerminkan jalannya fermentasi selama ensilase. Adapun petunjuk aktifitas fermentasi berkaitan dengan kandungan asam laktat adalah sebagai berikut :
  • Fermentasi silase sangat baik , kandungan asam laktar 8 – 12 %.
  • Fermentasi silase jelek, kandungan asam laktat kurang dari 8 %.
6. Konsumsi dan Kecernaan
Silase yang baik adalah silase yang disukai ternak. Umumnya ternak lebih suka silase dibandingkan dengan hay. Silase setelah dikeluarkan dari silo sebaiknya langsung diberikan pada ternak, jadi tidak pelu diangin-angnkan seperti hasil amoniasi jerami padi. Seringkali dijumpai ada ternak yang tidak suka silase, kondisi ini hanya disebabkan ternak belum terbiasa mengkonsumsi silase, namun dengan latihan antara 2 sampai 3 hari umumnya konsumsi ternak dengan silase berjalan normal.
Pada umumnya pembuatan silase tidak berpengaruh terhadap kecernaan, mengingat kecernaan silase sangat dipengaruhi dari bahan baku hijauannya, Hijauan yang mempunyai kecernaan rendah umumnya hasil silase juga mempunyai kecernaan rendah pula, begitu sebaliknya.

Tugas Mahasiswa :
Kalau memang silase mampu menyelesaikan permasalahan dalam supply hijauan, maka pertanyaannya :
a. Berikan pilihan jenis silo yang bagaimana agar sesuai untuk digunakan oleh peternak.
b. Additive manakah yang diperlukan untuk peternak.
Jawaban berisikan alasan yang sesuai dengan analisis anda dan kirim ke hermanto9@yahoo.com paling lambat 31 Maret 2012.

Selasa, 08 Maret 2011

ENSILASE

PROSES YANG TERJADI SELAMA ENSILASE

Selama ensilase terjadi perubahan pada hijauan baik secara fisik, kimia maupun biologis khususnya perkembangan mikroorganisme dalam silo.

Adapun tahapan perubahan tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut :
Hari ke1.
Hari 1 saat hijauan diisikan ke dalam silo, sel hijauan masih melakukan aktivitas respirasi. Fase awal ini dikatagorikan sebagai fase aerob. Meskipun silo dibuat an-aerob tetapi sisa udara dalam silo masih mampu digunakan untuk respirasi sel hijauan. Respirasi tersebut merupakan aktivitas pembongkaran zat makanan yang terkandung dalam hijauan menjadi panas, CO2 dan air. Respirasi sel hijauan pada awal pembuatan silase ini sangat penting karena dapat
menstimulir perkembangan bakteri asam laktat atau mikroba lainnya mengingat situasi dalam silo menjadi hangat dan lembab yang sangat sesuai bagi lingkungan mikroba. Pada saat ini pH dalam silo masih netral karena belum terjadi perkembangan mikroorganisme yang optimal dalam menghasilkan produk asam. Melihat proses yang terjadi pada hari pertama ini tentunya perlu dipahami bahwa proses respirasi sel hijauan tidak boleh berlanjut. Apabila proses respirasi ini berlanjut lama, maka pembongkaran nutrisi yang dikandung hijauan akan hilang, panas dalam silo akan berlebih yang nantinya mampu membakar zat makanan yang diperlukan ternak, selanjutnya kandungan air yang berlebihan dapat melarutkan nutrisi hijauan dan pada akhirnya perkembangan mikroba juga akan terganggu. Kelebihan air dalam silo biasanya ditandai dengan genangan air di dasar silo, kalau kondisi ini terjadi biasanya hijauan menjadi busuk, karena bakteri/mikroba yang berkembang adalah bakteri/mikroba pembusuk yang tidak dikehendaki dalam pembuatan silase.
  • Suatu upaya yang dapat dilakukan agar respirasi tidak berlanjut, adalah : Melayukan hijauan sampai kadar air 65 – 70% yang dapat mematikan sebagian besar set tanaman, Pelayuan ini juga diharapkan dapat melunakkan jaringan tanaman, sehingga memudahkan untuk memampatkan isi silo agar tercipta kondisi an-aerob. Pelayuan juga merupakan suatu upaya agar kandungan air dalam silo cukup ideal bagi perkembangan bakteri asam laktat.
  • Menciptakan kondisi dalam silo an-aerob. Dengan kondisi an-aerob maka sel tanaman tidak mampu melakukan respirasi. Respirasi yang terjadi pada hari ke 1 hanyalah memanfaatkan udara yang tersisa di sela-sela hijauan yang benar-benar sulit dikeluarkan dalam silo. Dinding silo tidak boleh bocor agar udara luar tidak masuk dalam silo.
Hari ke 2,
Pada hari ke-2 diharapkan sisa udara dalam silo sudah habis dan kondisi dalam silo sudah dalam phase an-aerob. Respirasi tanaman sudah tidak ada lagi dan aktivitas mikroorganisme mulai berjalan yang disebut dengan fermentasi. Fermentasi awal ini dilakukan oleh berbagai macam jenis mikroorganisme tetapi yang hanya dapat hidup dilingkungan an-aerob. Produk yang dihasilkan dari aktivitas fermentasi ini adalah asam asetat. Fermentasi awal ini menyebabkan temperatur dalam silo meningkat dan pH mulai turun akibat terdapatnya asam organic khususnya asetat dalam silo. Perkembangan mikroba yang beragam jenisnya ini akan bersaing untuk tumbuh dan yang dominant nantinya adalah jenis mikroba yang mampu memanfaatkan substrat yang tersedia di dalam silo. Untuk meningkatkan perkembangan bakteri asam laktat maka di dalam silo harus tersedia karbohidrat mudah larut (water soluble carbohydrate = WSC) yang cukup.


Hari ke 3
.
Pada hari ke 3, asam asetat tetap diproduksi, tetapi pada saat ini pula dimulai produksi asam laktat, hal ini menunjukkan bahwa bakteri penghasil asam laktat mulai berkembang. Berkembangnya bakteri asam laktat ini akan berjalan cepat atau lambat sangat tergantung pada ketersediaan substrat/WSC dalam silo. Temperatur dalam silo mulai menurun begitu pula dengan pH. Menurunnya temperatur ini suatu petunjuk bahwa aktivitas fermentasi mulai mengarah pada dominasi perkembangan bakteri sejenis (homo specific bacteria) yaitu bakteri penghasil asam laktat. Adanya asam laktat menyebabkan di dalam silo semakin asam (pH turun).

Hari ke 4 sampai 7.
Pada hari ke 4 sampai 7 produksi asam laktat sudah mendominasi di dalam silo. temperatur turun serta pH juga turun seiring dengan produksi asam laktat. Aktivitas bakteri asam laktat mendominasi di dalam silo sehingga tidak ada bakteri lain yang dapat berkembang karena kompetisi dimenangkan oleh oleh bakteri asam laktat. Namun demikian apabila pada phase ini produksi asam laktat berkurang akibat terbatasnya substrat WSC, maka tidak menutup kemungkinan timbulnya bakteri lain yang bukan penghasil asam laktat, seperti bakteri penghasil asam butirat. Asam laktat di dalam silo menyebabkan pH turun sampai dengan 4, kondisi ini mengakibatkan tidak mampunya bakteri lain untuk hidup pada pH tersebut.

Hari ke 8 sampai 21.

Pada hari ke 8 sampai 21 merupakan phase penentu baik atau buruk kualitas silase yang dihasilkan. Silase yang baik tentunya dapat disimpan lebih lama tanpa adanya kerusahan selama penyimpanan. Pada phase ini produksi asam laktat mencapai optimal, sehingga pH mencapai 4.

Setelah 21 hari.

Pada hari ke 21 dan setelah itu merupakan waktu yang tergolong phase penyimpanan. Silase yang baik mampu disimpan sampai ber-tahun-tahun dengan catatan selama penyimpanan tidak terjadi kerusakan pada silo, sehingga tetap terjaga dalam kondisi an-aerob. Keasaman atau pH maksimal 4 dan warna coklat, tekstur lembut/lunak tidak berlendir dan baunya sangat asam. Namun perlu diingat bahwa kalau silo sudah dibuka, maka isi silo harus digunakan terus, karena dengan terbukanya silo berarti silo sudah dalam kondisi aerob. Begitu juga dengan silase yang sudah dikeluarkan dari silo, kalau silase dibiarkan ditempat terbuka sampai lama (sekitar 3 hari), maka silase akan menjadi busuk atau berjamur/berlendir yang dapat berpengaruh pada kualitas silase.

Pemahaman tentang ensilase di atas sangat penting, hal ini diharapkan dapat digunakan sebagai upaya membuat silase yang baik dan benar serta dapat digunakan untuk memahami faktor apa saja yang dapat verpengaruh terhadap kualitas silase yang dihasilkan.
Selama ensilase terjadi perubahan kimia atau zat makanan seperti pada gambar berikut :

Dari gambar tersebut terlihat, bahwa kandungan gula menurun, mengingat gula merupakan substrat utama yg digunakan oleh bakteri untuk menghasilkan asam laktat, tentunya bakteri yang dapat melakukan itu adalah bakteri penghasil asam laktat. Menurunnya gula tersebut akan diikuti dengan kenaikan kandungan asam laktat yang membawa akibat menurunnya pH.
Suatu hal yang menarik adalah pemanfaatan protein dalam silo. Pada saat fermentasi dalam silo dilakukan oleh heterospecific bacteria (hari ke 2 dan 3) terjadi degradasi protein oleh kelompok bakteri proteolitik yang mana protein didegradasi menjadi ammonia dan asam butirat. Peristiwa ini perlu dihambat dalam pembuatan silase mengingat ammonia yang terbentuk akan mengakibatkan pH dalam silo sulit turun karena ammonia adalah kelompok buffer capacity. Situasi ini menunjukkan bahwa tanaman pakan ternak yang mempunyai kandungan protein tinggi seperti tanaman leguminosa sebaiknya jangan diawetkan dalam bentuk silase karena nantinya pH sulit turun dan silase tidak dapat disimpan lebih lama.
Selama ensilase banyak macam asam organik yang terbentuk, seperti : asam laktat, asam amino, asan asetat dan asam butirat. Namun asam yang diharapkan adalah asam laktat, untuk itu maka kandungan gula atau WSC sangat penting dalam memilih bahan untuk silase. Apabila hijauan pakan yang akan diawetkan mempunyai kandungan gula yang minim, maka dapat dilakukan dengan menambahkan komponen gula (WSC) untuk meningkatkan kandungan zat tersebut dalam silo.

Tugas Mahasiswa :
Melihat proses ensilase di atas, maka kita dapat memahami mengapa rumput jauh lebih bagus diawetkan dalam bentuk silase dibandingkan dengan leguminosa. Pertanyaan yang muncul, apa semua jenis rumput dapat dengan baik dibuat silase, jelaskan alasannya, (kirim ke hermanto9@yahoo.com paling lambat tanggal 22 Maret 2012).

Minggu, 27 Februari 2011

SILASE

PENGAWETAN HIJAUAN PAKAN
(KONSERVASI HIJAUAN)

Pendahuluan
Produksi ternak ruminansia tidak dapat terlepas dari produksi dan kualitas hijauan pakan yang dikonsumsinya. Umumnya menyediakan produksi hijauan yang berkualitas dan kontinyu sulit dikerjakan lebih-lebih di Indonesia, hal ini disebabkan :
  • Lahan subur di Indonesia diprioritaskan untuk tanaman pangan, sehingga tanaman pakan ternak di budidayakan di lahan marginal (kurang subur & kurang air). Bahkan sebagian peternak tidak mempunyai lahan sumber hijauan pakan, sehingga setiap hari peternak mencari rumput pada lahan yang di berbeda-beda dan bahkan jenis dan jumlahnya sangat beragam dari hari ke hari.
  • Indonesia beriklim tropis yang mempunyai dua musim : hujan dan kemarau. Pada saat hujan mungkin jumlah hijauan melimpah atau waktu yang digunakan untuk merumput menjadi singkat, sedangkan pada musim kemarau produksi hijauan sangat rendah atau waktu yang digunakan merumput menjadi lama, hal ini sebagai akibat dari hijauan pakan ditanam di lahan marginal. Dengan demikian terjadi fluktuasi produksi hijauan antara kedua musim tersebut, pada musim hujan hijauan pakan berlebih dan pada musim kemarau hijauan kurang.
Kesulitan hijauan pakan pada musim kemarau umumnya membawah dampak yang kurang menguntungkan bagi peternak, karena produksi ternak menjadi rendah dan bahkan dapat berlanjut pada kematian ternak. Rendahnya produksi akan berakibat pada rendahnya harga jual ternak dan menurunnya pendapatan peternak dan bahkan mampu mengakibatkan kerugian. Untuk mengantisipasi situasi yang kurang menguntungkan tersebut maka diperlukan suatu teknolgi pengawetan yang tepat, khusunya mengawetkan hijauan saat berlebih pada musim hujan untuk digunakan saat musim kemarau.
Teknologi pengawetan hijauan tersebut dapat dilakukan pada hijauan masih dalam kondisi segar (basah) ataupun kering. Hijauan yang diawetkan dalam kondisi segar tersebut disebut dengan SILASE sedangkan yang dalam bentuk kering disebut dengan HAY. Selain itu ada juga yang disebut HAILASE yaitu kombinasi antara Hay dan Silase.

SILASE
Silase atau Silage adalah Hijauan yang diawetkan dalam kondisi segar yang masih mengandung air 65 sampai 70 % dalam kondisi asam, tanpa ada oksigen pada Suatu tempat yang disebut dengan Silo.
Proses selama pembuatan silase tersebut disebut dengan ensilase (ensilage). Proses ini cukup rumit karena melibatkan aktifitas mikroorganisme dan selama proses ini banyak terjadi perubahan fisik, kimia akibat aktifitas fisiologi hijauan yang disimpan maupun mikroorganisme di dalam silo.
Melihat definisi dari silase tersebut, maka terdapat kata kunci yaitu : SEGAR, ASAM, AN-AEROB (tanpa oksigen) dan SILO.

Tujuan
Tujuan dari pembuatan silase adalah untuk mengawetkan hijauan pakan ternak.
Melihat tujuan tersebut maka perlu diingat bahwa apapun bentuk teknologi pengawetan pasti mempunyai konsekuensi kerusakan dari zat makanan selama proses pengawetan, oleh karena itu upaya yang perlu dilakukan adalah bagaimana agar tingkat kerusakan dapat diminimalkan. Selanjutnya untuk menutupi kekurangan nutrisi atau bahkan untuk meningkatkan nilai nutrisi dari hasil pengawetan tersebut umumnya dilakukan penambahan bahan-bahan lain yang disebut dengan additive.

Manfaat
Manfaat dari pembuatan silase cukup banyak seperti :
Sebagai upaya pemanfaatan kelebihan produksi hijauan pakan ternak untuk diberikan saat terjadi kekurangan.
  • Kelebihan produksi hijauan harus diselamatkan, artinya kalau hijauan tersebut dibiarkan tumbuh di lahan, nantinya akan menjadi tua dan kualitasnya menurun dan bahkan produksi komulatif hijauan per satuan luas dan waktu juga menjadi turun. Dengan demikian hijauan harus dipanen sesuai jadwalnya. Kelebihan panen tidak bisa dibiarkan begitu saja karena nantinya akan menjadi busuk, oleh karena itu agar bisa dimanfaatkan untuk persediaan pakan dapat dilakukan pengawetan dalam bentuk silase.
  • Sebagai upaya pemanfaatan limbah pertanian sumber serat untuk pakan ternak. Banyak limbah pertanian sumber serat yang mempunyai kualitas baik untuk ternak, seperti tebon jagung, pucuk tebu dan daun ketela. Pada saat panen tentunya jumlah limbah pertanian ini melimpah, bila digunakan untuk ternak pasti melebihi kebutuhan ternak karena umumnya areal panen cukup luas. Umumnya saat panen banyak limbah pertanian yang terbuang, oleh karena itu agar limbah tersebut dapat dimanfaatkan dan terdistribusi harian dengan baik, maka dapat diawetkan dalam bentuk silase.
  • Memberikan rasa aman bagi peternak karena kontinyuitas pakan lebih terjamin. Pada peternakan ruminansia skala besar, tentunya rasa aman memdapatkan prioritas utama. Salah satu rasa aman tersebut terkait dengan persediaan pakan yang cukup untuk jangka waktu tertentu.

Kelebihan dan Kekurangan Silase
Pengawetan hijauan pakan dalam bentuk silase ini tentunya selain mempunyai kelebihan dan juga mempunyai kekurangan. Adapun kelebihan dan kekurangan dari silase tersebut adalah sebagai berikut :

Kelebihan Silase
  • Diawetkan dalam kondisi basah, hal ini sangat ideal karena saat kelebihan hijauan umumnya terjadi musim hujan, dimana proses pengeringan sulit dilakukan bila mengandalkan energy dari sinar matahari.
  • Lebih disukai ternak dibandingankan pengawetan dengan cara kering.

Kekurangan Silase
  • Sifatnya asam, sehingga ukuran partikel hijauan harus kasar agar bisa dikunyah ternak dan proses ruminasi dapat berjalan normal. Adanya aktifitas pengunyahan dan ruminasi akan menjamin produksi saliva tetap banyak sehingga tetap mampu mempertahankan kondisi rumen netral.
  • Memerlukan peralatan pemotong hijauan, silo dan additive yang dapat meningkatkan biaya pakan.

Prinsip Pembuatan Silase
  • Hijauan pakan ternak tetap dapat awet di dalam silo dalam kondisi asam (pH <>
  • Asam yang diharapkan adalah ASAM LAKTAT. Asam yang ideal untuk pengawetan adalah Asam Laktat, hal ini selain asam tersebut dapat digunakan sebagai gizi ternak ruminansia, asam tersebut mampu membuat pH silo <>
  • Bakteri asam laktat dapat berkembang bila cukup air dan karbohidrat dalam kondisi an-aerob. Untuk mengoptimalkan pertumbuhan bakteri asam laktat tidak perlu menggunakan starter seperti di daerah temperate, tetapi cukup menyediakan lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan bakteri tersebut, sepeti kondisi harus an-aerob, cukup lembab (kandungan air sekitar 65 – 70%) serta terdapat karbohidrat mudah terfermentasi sebagai makanan utamanya.

Tugas bagi mahasiswa :
Bagaimana menurut anda dan jelaskan : Apakah teknologi silase ini mampu membantu untuk meningkatkan produksi ternak ruminansia di Indonesia. (kumpulkan via email ke hermanto9@yahoo.com paling lambat tanggal 15 Maret 2012).